Pages

4 Dec 2015

Paman, Sekarang Aku Tau Maksudmu, Engkau Tidak Ada di Dunia untuk Selamanya

Ini cerita singkat tentang saat-saat terakhir pamanku bersamaku. Aku punya paman dari ibuku yang bernama Alm. Dede Kusnadi tapi suka dipanggil Tite jika di rumah, beliau meninggal dunia pada tahun 1997.

Aku punya 2 orang paman dan tidak punya bibi dari ibuku, pamanku yang paling tua yang bernama Wawan Kurniawan pergi dari rumah tanpa kabar tapi beliau aku dengar dari warga sekitar memiliki cacat mental, beliau kabur dari rumahnya ketika aku berumur 4 tahun, hingga sekarang keluargaku tidak mengetahui kabar dan keberadaannya.

Kakekku meninggal dunia saat aku kelas 2 SD. Orangtuaku bercerai ketika aku berumur 3 tahunan karena usia pernikahannya hanya 4 tahunan, aku ikut dengan ibuku sejak kecil, ibuku hanya memiliki 1 orang anak hingga sekarang aku berumur 26 tahun.

Saat-saat terakhir pamanku yang bernama Alm. Dede Kusnadi bersamaku ketika itu di rumah ini ada aku, ibuku, pamanku Alm. Dede Kusnadi dan nenekku. Penghuni rumah ini hanya kami berempat saat itu pada tahun 1997-an. Pamanku Alm. Dede Kusnadi sudah seperti pengganti figur seorang ayah di rumah ini karena beliau satu-satunya laki-laki dewasa di rumah ini. Pamanku hingga dipanggil oleh Sang Pencipta belum pernah menikah sehingga dulu waktunya banyak dihabiskan bersamaku. Saat aku sangat membutuhkan figur seorang ayah beliau lah yang mengisinya karena orangtuaku bercerai ketika aku berumur 3 tahunan, aku ikut dengan ibuku dan hingga sekarang aku berumur 26 tahun, ibuku belum pernah menikah lagi.

Pamanku suka mengajakku jalan-jalan dengan sepeda nyentriknya pada hari minggu, aku dibonceng di belakang, kita seperti punya misi yaitu menemukan jalan-jalan yang entah tembusnya kemana, misalnya ada jalan yang tidak diketahui pamanku dan aku lalu kita masuki dan telusuri hingga akhirnya entah tembus di mana, aku masih ingat jalan-jalan yang kita lalui itu seperti apa dan ada apa saja di sana, salah satunya lingkungan yang banyak sawah, banyak kolam pemancingan, hingga ada masjid yang hingga saat ini aku tau letak, bentuk dan ada di pertigaan jalan. Sepeninggal pamanku, aku pernah lewat bersama temanku jalan-jalan yang pernah aku lewati dulu bersama pamanku, hatiku bergetar teringat masa-masa dulu jalan-jalan ke tempat ini bersama pamanku. Aku pernah minta pada pamanku saat dibonceng jalan-jalan, aku minta ke sini, ke sini, dan ke sini, kemudian pamanku berbicara kalo tidak salah seingatku "kamu enak dibonceng...", lalu aku diam tidak banyak bicara lagi.

Pamanku suka membelikanku mainan, aku suka dibelikan mainan oleh pamanku, aku menganggapnya seperti seorang ayah bagiku dan aku pun merasa beliau menganggapku seperti anaknya, bahkan orang lain ada yang menyangka aku adalah anaknya, padahal aku hanya lah keponakan satu-satunya. Aku sering minta uang kepadanya layaknya seorang anak kepada ayahnya, aku sering diberi uang olehnya. Aku pernah minta mainan truck-truckan pembawa semen mixer waktu itu harganya kurang lebih Rp. 150.000,- mungkin kalo sekarang Rp. 300.000,--an kurang lebih, aku meminta seperti yang dibeliin syukur gak dibeliin juga gak apa-apa tapi ternyata pamanku membelikannya untukku, setelah itu kami pulang ke rumah, kemudian nenekku tau kalo aku dibelikan mainan mahal oleh pamanku, kemudian nenekku bilang tapi aku lupa kata-katanya, aku hanya ingat intinya bahwa jangan dibelikan mainan mahal-mahal, uangnya dihemat, awet-awet. Kemudian pamanku bilang tapi aku lupa kata-katanya, aku hanya ingat inti jawabannya adalah iya terakhir.

Pamanku suka mengajakku ke masjid, aku sering diajak shalat ke masjid oleh pamanku, pamanku jika shalat Jum'atan selalu berpindah-pindah masjid dan sering mengajakku, aku pernah diajak ke masjid Agung Kota Bandung dan jalan-jalan di sekitarnya. Aku pernah diajak jalan kaki ke masjid sambil di jalan dijajaninya.

Pamanku pernah mengajakku menjaga toko elektroniknya lalu pulangnya naik kereta api, itu lah pengalaman pertamaku naik kereta api.

Pamanku mengajariku naik sepeda, sepedanya sepeda biasa tapi dipasangi roda kecil kanan-kiri agar tidak jatuh kalo anak kecil yang belum bisa naik sepeda, setelah beberapa lama roda kecilnya dilepas satu buah tapi setelah pamanku melepas roda kecil ini satu buah kemudian kesehatan pamanku menurun, pamanku sering sakit kepala, akhirnya aku berhenti dulu belajar naik sepeda karena pamanku sakit-sakitan. Aku bermain yang lain sambil menunggu kesehatan pamanku membaik, tapi ternyata kondisi pamanku terus menurun, hingga beliau meninggal, aku masih bisa naik sepeda, kemudian setelah beberapa lama, aku di temani ibuku kemudian melanjutkan belajar naik sepedanya dengan ibuku, setelah beberapa lama aku memberanikan diri hingga roda kecilnya yang di kanan-kiri dilepas agar aku cepat bisa, kemudian aku naik sepeda tapi jok belakangnya dipegangi oleh ibuku, lalu aku melaju sambil mengobrol dengan ibuku, setelah beberapa kali seperti ini, lama-lama aku belajar sendiri dan akhirnya bisa naik sepeda sendiri. Paman, aku telah bisa naik sepeda tapi engkau sudah di alam sana, engkau tidak bisa melihatku, mungkin jika engkau masih ada di sampingku engkau bahagia melihatku yang telah bisa naik sepeda.

Pamanku mengajariku berbicara huruf "R", aku ketika kecil tidak bisa mengucapkan "R", lalu pamanku mengajariku hingga aku bisa.

Pamanku mengajariku bermain game, itu pengalaman pertamaku bermain game.

Pamanku banyak cerita dan jasanya untukku.

Pamanku saat itu sering mengeluh sakit kepala, pernah dia mengeluh sakit kepala di dapur sambil berkata kepada nenekku lalu aku menghampirinya dan aku berkata "Paman, ayo sepeda-sepedaan..." karena aku tidak tau kalo pamanku sedang sakit kepala, lalu nenekku berkata "nanti ya, pamannya lagi sakit kepala, Rizkynya ke sana dulu ya..." lalu aku menjauhinya, dari situ karena aku takut perkataan nenekku, aku hanya diam saja memperhatikan pamanku.

Pamanku berkata "Ky, gimana kalo paman gak ada?", saat aku sedang menonton TV sendirian, aku melihat pamanku mondar-mandir seperti yang bingung banyak pikiran, kemudian pamanku tiba-tiba menghampiriku dan berkata "Ky, gimana kalo paman gak ada?", saat pamanku tiba-tiba menghampiriku, aku kira beliau akan memarahiku, aku kaget dan bingung, lalu aku menjawabnya "Iya Rizky, gak ada temen", setelah aku berkata seperti itu, kemudian pamanku langsung pergi meninggalkanku tanpa berkata apa pun. Aku bingung, aku menganggapnya mungkin mau pergi dulu ke suatu tempat kemudian kembali lagi gak lama.

Pamanku dibawa ke dokter, nenekku mengantar pamanku ke dokter di dekat rumah,, dokternya menyuruhnya untuk di-rontgen kepalanya, ternyata ada tumor otak di kepalanya, padahal awalnya nenekku menyangka sakit kepala biasa, karena sudah terlalu lama kata dokternya harus dioperasi, diambil tumor otak di kepalanya, lalu nenekku berencana membawanya ke rumah sakit.

Pamanku dibawa ke rumah sakit, setelah beberapa lama menunggu kemudian pamanku di bawa ke ruang operasi, setelah masuk ruang operasi, aku menunggu di dekat ruang operasi dengan perasaan khawatir, cemas, takut, dll, dalam perasaan yang tak menentu itu, kemudian teringat perkataan pamanku yang "Ky, gimana kalo paman gak ada?", aku berpikir apa maksud pamanku berkata seperti itu, apakah mungkin pamanku akan meninggal dunia dalam artianku tidak ada di dunia untuk selamanya karena pada saat pamanku berkata "Ky, gimana kalo paman gak ada?", beliau tidak pergi ke mana-mana, ada di rumah dan setelah berkata seperti itu pamanku menjadi lebih pendiam. Aku tidak bercerita kepada siapa pun tentang perasaan dan apa yang ada di pikiranku saat itu, saat itu aku pendam sendiri tentang pamanku pernah berkata "Ky, gimana kalo paman gak ada?", aku takut membuat perasaan ibu dan nenekku menjadi tambah sedih, aku takut menyakiti perasaannya, jadi aku pendam sendiri.

Pamanku keluar dari ruang operasi, akhirnya setelah sangat lama menunggu, aku lupa berapa jam tepatnya tapi seingatku lebih dari 3 jam, kemudian akhirnya pamanku keluar dari ruang operasi, ketika pertama kali aku mendengar pamanku keluar dari pintu ruang operasi, dari kejauhan aku melihat beliau berbaring pada kasur rumah sakit sambil ada perban melekat melingkar pada kepalanya, yang ada di pikiranku saat aku melihat dari kejauhan pamanku keluar dari pintu ruang operasi adalah apakah operasinya selamat atau perkataan pamanku "Ky, gimana kalo paman gak ada?" itu adalah sebuah petunjuk bahwa engkau tidak ada di dunia untuk selamanya. Aku dekati pamanku dan melihat kondisinya ternyata katanya operasinya selamat, kami bahagia, lalu aku berpikir pamanku berkata "Ky, gimana kalo paman gak ada?"  mungkin pamanku mau pergi ke suatu tempat tidak lama, kemudian kembali lagi hanya sebentar, akhirnya aku mulai tidak terlalu memikirkan perkataan pamanku itu.

Pamanku dibawa pulang ke rumah, setelah operasi itu dan beberapa lama dirawat di rumah sakit akhirnya pamanku diperbolehkan pulang ke rumah, akhirnya pamanku pulang ke rumah. Pamanku menjadi lebih pendiam dari biasanya setelah operasi. Setelah beberapa lama mungkin hampir 1 bulan, aku mengira pamanku ada kemajuan sehingga kelak jika pamanku sudah sembuh, kita bisa seperti dulu lagi, jalan-jalan naik sepeda, jalan kaki sambil jajan di jalan, mengajakku ke masjid, dll, seperti ketika dulu beliau masih sehat. Pamanku setelah pasca operasi mungkin hampir 1 bulan, tiba-tiba beliau muntah-muntah dan langsung tidak sadarkan diri, cairan yang dimuntahkannya pun berwarna kuning muda, setelah itu ibu dan nenekku panik karena pamanku langsung tidak sadarkan diri, nenekku memeluknya sambil berkata "kenapa Tite?", Tite adalah panggilannya di rumah, sambil menangis nenekku berkata lagi "Tite kenapa, Tite kenapa?", dan aku melihat ibuku pun menangis. Aku ketika melihat kondisi pamanku seperti itu tiba-tiba teringat kembali perkataannya dulu "Ky, gimana kalo paman gak ada?", tapi saat itu aku masih merahasiakannya, aku memendamnya karena takut melukai perasaan ibu dan nenekku. Aku dalam pikiranku bertanya-tanya apakah engkau tidak ada di dunia untuk selamanya atau kah pamanku berencana pergi ke suatu tempat tidak lama kemudian kembali lagi, tapi dalam pikiranku lebih condong kepada engkau tidak ada di dunia untuk selamanya karena melihat kondisi pamanku saat itu.

Pamanku dibawa ke rumah sakit dalam kondisi tidak sadarkan diri, lalu dimasukkan ke ruang ICU dan dinyatakan dalam kondisi koma oleh dokter, nenekku menceritakan bahwa sebelumnya muntah-muntah cairan kuning muda kemudian kata dokternya bahwa itu adalah cairan di otak. Aku diajak ibuku menjenguk pamanku di ruang ICU padahal ada tulisan untuk anak kecil seusiaku tidak boleh masuk, penjaganya sepertinya tidak melihatku, ketika kau di dalam ruang ICU lalu aku menghampiri pamanku, saat aku ada di sampingnya kemudian aku genggam tangannya, ibuku menangis melihatku, kemudian kalo tidak salah ibuku bberkata "Tite, ini Rizky" sambil aku menggenggam tangannya tapi tidak ada respond dari pamanku yang sedang koma, kemudian kami keluar. Setelah beberapa hari, aku diajak lagi oleh ibuku untuk menjenguk pamanku, tapi penjaganya melihatku jadi aku tidak boleh masuk ke ruang ICU, aku hanya diperbolehkan melihatnya dari luar ruang ICU tapi aku masih bisa melihatnya dari kaca kemudian aku menunggu di luar dan ibuku masuk ke dalam, aku melihat pamanku yang sedang koma kemudian dalam pikiranku "Paman Tite lagi tidur", kemudian aku tersenyum, aku tidak bisa menggenggam tangannya, lalu kami menjauh dari ruang ICU ke tempat menunggu pasien.

Kami menunggu di tempat menunggu pasien, kalo tidak salah pamanku sudah 7 hari dalam keadaan koma di ruang ICU, kemudian tiba-tiba nenekku berkata tapi aku lupa kata-katanya tapi intinya kondisi pamanku semakin menurun, lalu aku memberanikan diri mengatakan apa yang pernah dulu pamanku sampaikan yaitu "Ky, gimana kalo paman gak ada?", ini lah yang selalu ada di pikiranku jika melihat kondisi pamanku yang menurun, kemudian nenekku kalo gak salah berkata "hus, jangan bilang gitu", tapi setelah itu ibu dan nenekku terdiam mungkin jadi pikiran mereka. Setelah beberapa lama, kalo gak salah seingatku, aku berbicara seperti itu siang hari lalu sore harinya terdengar bunyi "tit..." dari mesin pendeteksi detak jantung yang menandakan bahwa pasien jantungnya berhenti berdetak, bunyi itu terdengar hingga ke luar ruang ICU, kemudian ibu dan nenekku panik dan bergegas masuk ke ruang ICU, aku ditinggal sendirian di tempat menunggu pasien di luar ruang ICU, lalu aku melihat ibuku keluar dari ruangan ICU dalam keadaan menangis, dari kejauhan aku melihat ibuku sambil berpikir sepertinya itu berasal dari mesin jantung pamanku, mungkin pamanku telah meninggal dunia, kemudian ibuku menghampiriku sambil menangis dan berkata "Ky, Paman Tite udah gak ada", aku hanya terdiam tapi hatiku bergetar ketika pertama kali mendengar bahwa pamanku telah meninggal dunia, aku teringat dulu ketika aku sedang menonton TV, pamanku mondar-mandir seperti orang yang bingung banyak beban pikiran lalu tiba-tiba langsung menghampiriku kemudian berkata "Ky, gimana kalo paman gak ada?", sepertinya pamanku tau sesuatu, sekarang aku tau bahwa engkau memberikanku petunjuk, saat pertama kali aku mendengar perkataan pamanku itu yang ada di pikiranku mungkin pamanku mau pergi ke suatu tempat tidak lama kemudian kembali lagi tapi ada juga pikiran apakah mungkin engkau tidak ada di dunia untuk selamanya, ah aku harus berpikir yang baik, saat itu dulu dipikiranku seperti itu, tapi kini semuanya terjawab sudah, mungkin engkau dulu memberikanku petunjuk bahwa engkau akan pergi meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Aku hanya bisa terdiam tapi hati bergetar sambil melihat ibuku yang sedang menangis. Setelah beberapa saat, nenekku keluar dari ruang ICU sambil menangis dan disebelahnya ada perawat yang mendorong kasur pasien sambil pasiennya ditutupi oleh kain, aku yakin yang ditutupi oleh kain itu pamanku dan ternyata benar, lalu kami melewati ruang jenazah kemudian Alm. pamanku dimasukkan ke dalam mobil ambulance untuk diantar ke rumah, dalam perjalanan dari rumah sakit hingga ke rumah, sepanjang jalan diguyur hujan. Setelah sampai di rumah, banyak sekali orang yang melayatnya, banyak orang yang menshalatinya, pamanku setauku dan seingatku semasa hidupnya orangnya saleh, beliau sering ke masjid dan dekat dengan agama.

Pamanku dibawa ke tempat pemakaman umum, banyak orang yang datang di sana, akhirnya pamanku dikuburkan. Aku melihat nenekku dan ibuku menangis.

Paman, engkau tikdak ada di dunia untuk selamanya, saat aku teringat kebaikan-kebaikanmu kepadaku, aku hany bisa berdoa "Ya Alloh, berikanlah kebaikan kepadanya sebagaimana ia memberikan kebaikan kepadaku...", terkadang aku rindu saat -saat bersama pamanku bahkan pernah hingga aku meneteskan air mata, kini aku kehilangan figur seorang ayah, sejak umur 8 tahun hingga sekarang aku berumur 26 tahun hanya aku lah laki-laki di keluarga ini, teringat saat jalan-jalan dibonceng naik sepeda, saat aku sering diajaknya ke masjid, saat-saat bersamanya tinggal kenangan.

Pamanku yang ketika aku kecil sering mendidikku layaknya seorang ayah, kini telah tiada sejak aku berumur 8 tahun, terkadang terpikirkan mengapa Tuhan memanggil orang yang sangat aku butuhkan dalam kondisiku seperti ini, mungkin ini semua ujian hidupku, apa pun yang terjadi, aku harus bisa menghadapinya hingga Tuhan memanggilku untuk kembali kepada-Nya. Jika kelak aku bertemu dengan pamanku di alam sana, aku akan bertanya "Paman, masih ingatkah saat-saat kita di dunia?. Paman, aku pernah menulis tentangmu dan kebaikan-kebaikanmu, semoga bisa menginspirasi orang lain. Selesai 3-12-2015.

*Setelah DIBACA timbal baliknya harus di-SHARE soalnya gak gratis. : ))

No comments: