Oleh: Rizky Fauzi
Broken home adalah istilah lain dari
keretakkan rumah tangga yang diakibatkan oleh perceraian. Broken home
lebih sering terdengar ditelinga kita dalam bentuk kata “anak broken
home” dari pada broken home itu sendiri.
Anak broken home adalah korban yang
diakibatkan oleh keputusan orangtuanya yang memilih untuk bercerai
sebagai jalan keluar dari permaslahannya, saya sendiri telah menjadi
anak broken home sejak dari umur 3 tahun karena orangtua saya bercerai,
ibu dan ayah sya adalah seorang PNS guru SMP, saya pernah dengar tentang
desas-desus bahwa perceraian seorang PNS sangatlah rumit tidak seperti
selain PNS, karena harus ada izin dari sana-sini, mungkin izin dari
pemerintah dan dari pihak-pihak yang terkait seperti dari atasannya.
Jika perceraiannya tidak resmi atau tidak sesuai aturan yang telah
dibuat maka status PNS-nya bisa dicabut alias diberhentikan dengan tidak
hormat.
Anak broken home dilihat dari beberapa aspek. Dilihat dari sapek kasih sayang. Anak broken home mendapatkan kasih sayang yang kurang, kasih sayang yang kita dapatkan dari orangtua jika tinggal di salah satu orangtua kita adalah, dari ibu jika tinggal dengan ibunya, dari ayahnya jika tinggal dengan ayahnya. Walau pun jika memiliki ayah atau ibu tiri sangatlah berbeda tidak sebaik yang ayah atau ibu kandung berikan. Dalam beberapa kasus bahkan ada yang menitipkan anaknya dikakek-neneknya karena orangtuanya ingin meniti karir. Dilihat dari aspek ekonomi, anak broken home biasanya mendapatkan sokongan finansial dengan sistem kirim/transfer dari salah satu ini, yaitu kedua orangtuanya, kedua orangtuanya ditambah ayah/ibu tirinya, salah satu orangtuanya ditambah ayah/ibu tirinya, dan salah satu orangtuanya ditambah kakek-nenek karena salah satu orangtuanya khilaf akan tanggungjawabnya kepada anak. mayoritas anak broken home di Indoesia berada di bawah garis kemiskinan, seperti saya salah satu dari sekian juta mayoritas orang miskin di negri ini, saya mendapatkan segala macam bantuan dari pemerintah mulai dari ASKESKIN (Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin), JAMKESMAS (Jaminan Kesehatan Masyarakat Miskin), RASKIN, dll. Dilihat dari aspek didikan orangtuanya, anak broken home selama hidup, masa kecilnya lebih banyak dididik oleh salah satu orangtuanya, misalnya seperti saya yang tinggal dengan ibu saya karena ibu saya hanya memiliki 1 orang anak, karena ibu saya telah menjadi janda sejak saya berumur 3 tahun, sejak umur 3 tahun hingga saya menulis ini ibu saya tetap seorang janda yang belum pernah menikah lagi alias hanya pernah 1 kali menikah dengan ayah kandung saya dan saya pun tidak pernah merasakan memiliki ayah tiri. Oleh karena itu, walau pun ayah kandung saya pernah menyindir saya katanya “salah didikan”. Didikan ibu kandung saya yang saya rasakan agak cuek terhadap anak yang memang didikannya kurang bagus, dan juga mungkin karena rasa jengkel, kesal, dan marahnya kepada ayah kandung saya tetapi hanya bisa meluapkannya kepada saya. Jadilah saya seperti ini apa adanya, didikan orangtua terhadap anaknya seperti membuat sebuah roti, jika ingin membuat roti yang istimewa, lezat, eak, dll kita harus memberikan bahan-bahan roti yang terbaik, diolah oleh tenaga profesional dibidangnya, dibuat dengan menggunakan alat-alat yang modern sebagai alat-alat penunjangnya, dikemas dengan strategi promosi yang handal, maka roti tersebut akan bernilai jual tinggi dipasaran.
MY FAMILY
Anak broken home tidak selamanya identik
dengan kenakalan remaja, hal ini memang sering terjadi dikalangan anak
broken home mungkin karena kurangnya perhatian, kasih sayang, , dan
didikan orangtuanya terhadap si anak, sehingga si anak ingin mendapatkan
itu dengan cara negatif yang biasanya dalam bentuk kenakalan remaja,
padahal dengan cara negatif itu tidak dibenarkan dan memang salah besar,
karena kita bisa saja bukannya mendapatkan perhatian orangtua tetapi
malah mendapatkan dampak negatifnya dari kenaklan remaja tersebut,
misalnya dengan cara coba-coba merokok hingga ujung-ujungnya ke narkoba
hal ini bukannya menyelesaikan masalah tapi malah memperburuk keadaan,
jadi belajarlah dewasa dalam menghadapi masalah selesaikanlah dengan
hal-hal positif, karena masih banyak cara positif yang bisa dilakukan,
misalnya tunjukkan kepada orangtua mu tentang prestasi-prestasi mu
disekolah mungkin hal ini bisa menjadi cara agar orangtua mu lebih baik
kepada mu, sayang, perhatian, dll. Sehingga merubah pola pikirnya, buat
orang tua mu berkata ternyata anak ku ini bisa buat ku bangga, menyesal
selama ini aku telah menyia-nyiakannya. Jadi kita bukan hanya
mendapatkan kasih, sayang, perhatian, dll tetapi juga dampak positif
dari hal positif tadi, berbeda dengan melakukan hal negatif yang
berdampak negatif pula terhadap diri kita sendiri.
Seperti kata pepatah mengatakan “bersatu
kita teguh bercerai kita runtuh”, maka bagi yang akan bercerai pikirlah
matang-matang terhadap keputusannya itu.
Source: http://rizkyfauzi19.wordpress.com/2010/05/22/71/
SUKSESKANKU dengan SHARE-MU, rekomendasikan karya terbaikku ke temanmu.
*Sudah DIBACA timbal baliknya harus di-SHARE soalnya gak gratis. : ))
SUKSESKANKU dengan SHARE-MU, rekomendasikan karya terbaikku ke temanmu.
*Sudah DIBACA timbal baliknya harus di-SHARE soalnya gak gratis. : ))
No comments:
Post a Comment